Friday, January 15, 2016

SOSOK DI BALIK BOM SARINAH JAKARTA



SOSOK-DIBALIK-BOM-SARINAH-JAKARTA
JAKARTA, Ledakan bom yang terjadi di kawasan parkiran Sarinah MH Thamrin pada pukul 10.50 WIB Kamis 14 Januari 2016, Dugaan sementara tersangka pengeboman tersebut ada kaitannya dengan organisasi ISIS, akan tetapi ditengah keadaan yang bisa di bilang Indonesia siaga 1 ada sebagian orang yang menganggap kejadian bom bunuh diri di jakarta ini hanyalah sebagai pengalihan isu kasus freeport saja, yang perlu kita tahu bahwa batas waktu PT. freerport untuk menawarkan saham terakhir yaitu tanggal yang sama saat terjadinya pengemboman di jakarta. 
Terlepas dari itu semua penulis ingin mengingatkan kembali akan sejarah dibangunnya gedung tersebut.
Sarinah diambil dari nama sosok pengasuh Presiden pertama RI Soekarno yang sangat ia hormati.
Wanita pedesaan yang bekerja sekaligus menumpang di kediaman Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.
Di rumah tersebut Sarinah mengasuh Soekarno kecil tanpa dibayar atau digaji. Sosok Sarinah sangat dekat dengan Soekarno kecil, bahkan mungkin Soekarno lebih dekat dengannya daripada ibunya sendiri.
Soekarno mengaku Sarinah menginspirasinya untuk mencintai rakyat kecil.
"Karno, pertama engkau harus mencintai ibumu. Kemudian, kamu harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya." itulah pesan mulia yang disampaikan Sarinah kepada Soekarno muda dikutip dalam laman merdeka.com. 
Begitu berartinya sosok Sarinah untuk Soekarno sampai ia membuatkan buku dengan judul 'Sarinah, kewadjiban wanita dalam perdjoeangan Repoeblik Indonesia' pada tahun 1963.
Buku tersebut diterbitkan oleh Panitia Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Soekarno, berisi 329 halaman.
"Apa sebab saya namakan kitab ini Sarinah? Saya namakan Kitab ini Sarinah sebagai tanda terimakasih saya kepada pengasuh saya ketika saya masih kanak-kanak. Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Dia mbok saya. Dia membantu ibu saya, dari dia saya menerima banyak rasa cinta, dan rasa kasih."
"Dari dia, saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiri pun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar."
"Moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah."
Itulah beberapa kutipan yang diambil dalam laman kata pengantar buku tersebut.
Tak hanya buku Sarinah yang terkenang hingga sekarang, gedung "Sarinah" tersebut pun sampai saat ini masih berdiri tegak sebagai tanda hormat Ir Soekarno kepada sosok Sarinah yang sederhana. (D.O.A)

Wednesday, January 13, 2016

TULUNGAGUNG KOTA PERTAMA DI INDONESIA YANG MEMILIKI NO GAWAT DARURAT 911 SEPERTI DI AMERIKA

D.O.A.,TULUNGAGUNG, -kabar membanggakan di tulungagung datang dari salah satu R.S ternama yaitu Rumah sakit Dr. Iskak Tulungagung beberapa waktu lalu Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengunjungi unit reaksi cepat gawat darurat di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Iskak Tulungagung. Program panggilan gawat darurat menyerupai 911 di Amerika ini sukses diterapkan di Tulungagung dengan mengintegrasi Kepolisian, Kodim, pemadam kebakaran, penanggulangan bencana alam, dan tenaga medis.

Dalam kunjungannya di RSUD dr. Iskak Tulungagung Jumat 8 Januari 2016, Menteri Nila Moeloek mengakui jika program panggilan gawat darurat bernomor 320119 ini baru ada di Kabupaten Tulungagung dan mengalahkan layanan kesehatan di rumah sakit Jakarta sekalipun. 

“Dengan sekali pencet telepon, petugas kepolisian, pemadam kebakaran, hingga ambulan akan bergerak ke rumah warga,” kata Nila, Jumat 8 Januari 2016.

Menurut Nila, pemerintah pusat saat ini tengah menggagas layanan penanganan gawat darurat terpadu melalui sambungan telepon 119. Namun program berjuluk National Comand Center yang melibatkan banyak perangkat keselamatan ini rencananya baru akan terealisasi tahun 2019 mendatang. 

Saat ini Kementerian Kesehatan masih berupaya mendorong pembentukan public safety community (PSC) di setiap daerah otonom untuk meminimalisir resiko keselamatan masyarakat.

Di Tulungagung, program panggilan gawat darurat atau Tulungagung Emergency Medical Service (TEMS) di nomor 320119 ini sudah berjalan sejak November 2015 lalu. Dengan sekali telepon, petugas operator di Call Center RSUD dr. Iskak akan mengetahui situasi gawat dan posisi penelepon. 

Selanjutnya laporan itu akan diarahkan kepada organ yang sesuai, apakah kepolisian, pemadam kebakaran, penangulangan bencana, atau petugas medis.

Menariknya, nomor ini juga bisa menjadi saluran tele-medicine atau panduan penanganan melalui telepon. Misalnya saja jika terjadi anak sakit panas di malam hari, petugas medis akan memberikan panduan penanganan darurat yang bisa dilakukan orang tua di rumah, baik dengan mengompres atau memberikan obat-obatan yang tersedia di rumah. Jika kondisinya mengkhawatirkan petugas akan mengirimkan ambulan dan tenaga medis untuk mengevakuasi ke rumah sakit.

Tak hanya pada situasi medis, layanan telepon darurat ini juga mengatasi ancaman keamanan dan bencana. Petugas operator akan mengirimkan polisi atau pemadam kebakaran ke lokasi penelepon yang diketahui lewat koordinat satelit. “Kami akan menjadikan rumah sakit ini sebagai percontohan di Indonesia,” kata Nina.

Bupati Tulungagung Syahri Mulyo mengatakan program TEMS ini digagas sejak dua tahun lalu bersama Direktur RSUD dr. Iskak, dr Supriyanto Sp.B. Tingginya angka kecelakaan serta gangguan keamanan dan bencana di Tulungagung menjadi salah satu  alasan mengapa layanan gawat darurat secara cepat ini digagas. Menurut Syahri, daerah yang dipimpinnya ini 75 persen berada di kawasan perbukitan dan berhadapan langsung dengan laut Hindia di Pantai Popoh. Karena itu ancaman longsor dan tsunami terus mengincar keselamatan warga yang membutuhkan penanganan cepat dari petugas terkait. 

“Butuh waktu lama untuk membangun sistem teknologi yang mengintegrasi kepolisian, TNI, BPPD, dan rumah sakit ini,” katanya.

Untuk mendukung program ini, pemerintah Tulungagung telah mengirimkan sejumlah tenaga medis dan perawat ke Hospital Kuala Lumpur Malaysia untuk mempelajari penanganan kegawat daruratan. Jumlah ambulan juga ditambah hingga 38 unit yang siap bergerak menjemput masyarakat selama 24 jam.
 "semoga dengan adanya program baru ini pelayanan kesehatan bisa lebih baik dan bisa menjangkau seluruh pelosok daerah di tulungagung,"ucap salah satu warga" 

Friday, October 23, 2015

JONO & JONI


JONO DAN JONI

episode 1 


Sebuah Kisah yang diangkat dari kehidupan nyata, cerita sepasang dua sahabat yang mengabdikan dirinya ke dalam dunia pendidikan setelah terlebih dahulu mereka menyelesaikan kuliah. Jono adalah seorang anak laki-laki berusia sekitar 23 tahun lebih 10 bulan 12 hari, berasalah dari keluarga yang kaya raya dia bertubuh tinggi, berotot, cukup pintar dan dia adalah idola para wanita pada tahun 2009 lalu dia mengambil bangku kuliah di salah satu perguruan tinggi di jawatimur katanya bangku di rumah sudah rusak semua, syukur alhamdulillah dia tidak ketahuan karena kalau ketahuan ngambil bangku bisa bahayaaa. Jono mempunyai temen namanya Joni, berbeda dengan jono, joni ini adalah orang yang pendiam, berpawakan pendek, gendut, bisulan, jerawatan, korengan, jantungan, dan anehnya lagi dia juga bisa hidup, jono dan joni ini rumahnya saling bersebelahan satu sama lain dari kecil mereka sudah bersama, mereka adalah sepasang sahabat sejati kemanapun jono pergi pasti ada joni atau boleh dibalik kemanapun joni pergi pasti ada jono kemanapun bersama, bermain bersama, belajar bersama sekolah bersama sampai kuliah bersama, tidur bersama, makan bersama, mandi bersama, dan lain sebagainya.
Singkat cerita setelah 4 tahun mereka kuliah akhirnya mereka lulus di tahun 2013 lalu meskipun hasilnya nilai mereka tidak sama karena memang otak tidak bisa dibohongi jono yang memang pintar lulus dengan predikat Cumlaude sedangkan joni lulus dengan predikat memuaskan. Seperti orang lain yang sudah lulus kuliah mereka mencari tempat untuk mengabdi atau sekedar untuk mempraktekkan ilmu yang sudah mereka dapat di perkuliahan.sekian lama mencari cari merekapun mendapatkan sekolah atau tempat untuk mengabdi dengan bermodalkan ijasah sarjana merekapun diterima dengan jabatan yang sama, wilayah yang sama meskipun lembaganya berbeda.
Seiring berjalannya waktu dan beban kerja jono pun mulai merasakan kejenuhan dalam pekerjaannya yang tak kunjung habis-habisnya.
Seperti biasanya malam ini mereka harus terjaga untuk menyelesaikan tugasnya, jono memutarkan lagu peterpan lewat youtube di komputer miliknya sedangkan joni cuma terdiam sambil terus mengerjakan tugasnya tanpa memperdulikan situasi di sekitarnya, tanpa terasa satu jam waktu telah berlalu agar tidak jenuh jono pun mengajak ngobrol joni sekedar untuk memecah keheningan malam.
Jono: jon lu bosen nggak sich kerja kayak gini?
Joni : enggak (jawabnya singkat sambil terus menatap laptop)
Jono: Kok bisa? (sambil memasang ekspresi penasaran)
Joni : yaaa karena gue suka dan menikmatin pekerjaan ini.  my Job is my hobby
Jono: Cuma gitu doang? (dengan nada agak keras)
Joni : Gini lho jon loe udah punya pekerjaan yaaa meskipun gajinya kecil tapi tetep harus disyukuri lahhh dari pada mereka yang masih nganggur masih bingung cari pekerjaan. hidup itu jangan terus melihat keatas sekali-kali juga liat kebawah napa sapa tau nemu dompet..... hahahaha (jono & joni pun tertawa lepas)
Jono: ahhhh bisa aja lu jon
(sambil berusaha menghabiskan sisa tawanya joni melanjutkan perkataanya)
Joni : tapi bener jon kita tuh harus selalu bersyukur apa yang udah diberikan pada kita dan yakin kalau kita terus berusaha pasti akan diberikan jalan yang terbaik.
Jono : iya juga sich jon gue juga setuju apa yang loe omongin lagian kalau mau cari pekerjaan lain juga nggak ada yang cocok selain kemampuan nggak ada tampang gua juga pas pas an cenderung kurang sebenernya.
Begitulah cerita jono dan joni melepas lelah dalam menghadapi pekerjaannya.
BERSAMBUNG..............

Thursday, October 22, 2015


BERMAIN DENGAN WAKTU,
Malam sedang membawaku berjalan di atas roda mimpi yang berputar kala tidur lelapku. Ya, berjalan, bukan berlari. Karena aku ingin menikmati setiap alunan khayalan yang melintas di depanku. Sekelilingku putih, sangat putih tak berujung. Aku terus berjalan dan berjalan hingga putih di sekitarku semakin lama semakin redup ditelan kegelapan. Kemudian aku mendengar bunyi “Tik..tok..tik..tok..” Seperti suara mesin jam yang sedang mengayun jarum detiknya.
Aku juga melihat seperti ada sinar dari luar yang menembus ke dalam duniaku. Bola mataku bergerak ke kiri dan ke kanan. Tempat ini sepertinya tidak asing. Aku teliti lagi dan mencoba mengingat tempat ini. Lalu aku merasakan getaran pada pergelangan tanganku seiring dengan suara yang juga tidak asing. Ternyata aku terbangun. Sial. Atasanku menghubungiku melalui chip komunikasi pada gelang yang aku pasang di tanganku. Untuk apa beliau menghubungiku pagi-pagi buta begini. Nadanya keras, layaknya beliau sedang memimpin suatu peperangan.
Namaku Luis. Aku bekerja pada lembaga penelitian perkembangan bumi di kota yang penuh dengan penemuan teknologi-teknologi baru. Teknologi yang paling baru ditemukan adalah mesin waktu. Namun teknologi baru ini tidak dapat bebas digunakan. Pemerintah kota hanya memfasilitasinya untuk lembaga tempat aku bekerja. Lembaga ini dipimpin oleh Prof. John Titor, atasanku. Beliaulah penemu mesin waktu tersebut. Mesin waktu hasil penemuan Titor ini digunakan untuk meneliti sejarah agar benar-benar akurat.
Pagi-pagi buta itu, Titor memerintahkanku untuk segera datang ke kantor. Ada masalah besar dan benar-benar fatal katanya. Lantas aku beranjak dari tempat tidurku. Pelayan rumah yang berdiri di sampingku langsung membasuh wajahku dengan air, membersihkan mulutku, kemudian mengambilkan pakaian kerjaku. Aku di rumah bagaikan seorang raja yang sering memerintah seorang budak tanpa pernah menyakiti hati si budak. Karena pelayanku memang tak punya hati. Di dalam tubuhnya hanyalah rangkaian kabel yang dirancang untuk melayani perintah majikannya. Ya, sebuah robot. Aku menyebutnya E-maid.
Kini aku sudah siap bergegas ke kantor. Aku mengambil kendaraanku yang ku parkirkan di rak sepatu. Memang sepatulah kendaraanku. Hanya dengan memakainya lalu sepatu itu akan terhubung dengan otak dan mengantarnya ke tempat tujuan yang aku inginkan. Kendaraan berwujud sepatu itu ditemukan beberapa tahun lalu, sehingga sudah lama sekali kakiku tidak dihinggapi rasa lelah.
Jalanan sangat sepi, bulan masih tersenyum cerah. Lampu jalan masih berperan menghiasi kota. Sunyi sekali, sepertinya bencana pun tidak dapat mengganggu keheningan malam kota ini. Aku telah sampai di depan kantor. Sensor di atas pintu masuk kantor mendeteksi komposisi tubuhku. Memang tidak sembarang orang bisa memasuki kantor ini. Aku membuka pintu kantor. Seketika hening berubah ricuh. Suasana kantor kacau. Aku masih bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Titor memanggilku ke ruang penjelajahan waktu. Di sana sudah berkumpul lima rekan kerjaku yang memang biasa melaksanakan perintah perjalanan waktu untuk meneliti fosil manusia purba.
Titor lantas bekata, “Seseorang telah melakukan perjalanan waktu illegal! Ini sangat fatal! Ia telah merusak rangkaian cerita bumi. Kalian harus menyelamatkannya!”
Salah satu rekan kerjaku bertanya, “Merusak seperti apa, Mr. Titor?”
“Ia mengajarkan ilmu ilmiah kepada manusia purba itu sehingga mereka menjadi pintar. Mungkin kalian akan bertanya mengapa hal seperti itu dibilang fatal. Ini akan sangat berakibat buruk bagi generasi selanjutnya.” Jawabnya.
Tanpa menunggu lama, kami berenam duduk di bangku mesin untuk segera melakukan perjalanan ke zaman purba dalam misi penyelamatan rangkaian cerita bumi.
Sekelibat ruangan menjadi putih. Sepertinya aku telah memasuki jalur perjalanan ke sana. Perjalanan waktu ini mirip dengan perjalanan di atas roda mimpiku. Sekeliling putih, banyak alunan masa lalu melintas di hadapanku. Aku masih menikmati, hingga tiba-tiba aku terjatuh kencang ke dalam lubang hitam di antara hamparan putih. Aku sekarang berada di atas tanah, sekelilingku pepohonan rimbun yang sangat segar. Air sungai yang mengalir sangat jernih. Aku sangat menikmati keasrian tempat ini setiap kali aku mengunjunginya.
Rekan-rekanku sudah lebih dulu sampai di sini. Kata mereka, aku terlalu lama menikmati perjalananku. Lalu kami mendapat pesan dari Titor untuk memerintahkan kami bergerak menuju pemukiman orang purba. Tiba-tiba seorang purba lewat, kami terkejut. Bukan terkejut karena orang purba itu, tetapi terkejut dengan apa yang ditunggangi orang purba itu. Sepeda kayu! Mereka sudah menemukan roda sebelum bangsa sumeria menciptakannya.
Kami melanjutkan langkah kaki kami menuju pemukiman orang purba. Tercenganglah kami melihat perkembangan yang sangat pesat dibanding terakhir kali kami ke sini. Bangunan kayu dimana-mana, pakaian sudah mereka kenakan dan mereka sekarang tidak banyak berjalan kaki, melainkan menggunakan sepeda kayu itu. Seorang purba kemudian menghampiri kami, “Siapa kalian?” Tanya orang purba itu. Lebih terkagum lagi kami mendengar mereka sudah bisa berbahasa.
Aku kemudian malah balik bertanya, “Bagaimana kalian membuat semua ini? Dan dari mana kalian mempelajari bahasa kami?”
Ia menjawab, “Orang asing dengan penampilan seperti kalian telah mengajarkan bagaimana membuat semua benda ini dan juga mengajarkan bahasanya.”
Aku berpikir, mengapa Titor begitu marah dengan hal ini, bukankah seharusnya baik untuk masa depan jika orang purba saja sudah sepintar ini.
Kemudian kami melanjutkan langkah lagi menyusuri kota purba ini. Bukan ketakutan akan bahaya masa depan yang kami rasakan, malah kami merasa kagum dengan kepintaran mereka. Pemimpin kelompok kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke masa sekarang. Ia berkata bahwa hal ini akan membawa kebaikan untuk masa depan manusia yang lebih cerdas. Akhirnya kami kembali ke tempat semula kami, menunggangi mesin waktu lagi menuju ruang penjelajahan waktu di kantor dan bertemu John Titor. Pemimpin kelompok kami melaporkan kepada beliau, bahwa tidak ada bahaya apapun di zaman itu. Titor hanya tersenyum sinis dan berkata, “Kalian tidak mengerti. Baiklah, agar kalian mengerti aku akan mengirim kalian ke masa kanak-kanak kalian masing-masing.”
Aku berjelajah lagi dengan mesin waktu itu. Kini tempat tujuannya adalah masa kanak-kanak kami masing-masing. Aku telah sampai. Aku datang ke masa kecilku ketika aku bersama Ibuku sedang berada di sebuah pasar tradisional. Aku melihat sekeliling, tidak ada yang berubah dari apa yang dahulu aku lihat. Masih sama persis. Namun lama-kelamaan aku menyadari ada yang hilang. Aku memejamkan mata mencari sesuatu yang hilang itu.
Suara!! Mengapa tidak ada suara langkah kaki di sini? Kemudian aku menoleh ke bawah. Terkejutlah aku melihat orang-orang di sini sudah menggunakan kendaraan sepatu yang baru beberapa tahun digunakan di masa sekarang! Sepatu-sepatu yang mereka gunakan pun sudah berbagai macam bentuknya. Hebat! ternyata ilmu pengetahuan berkembang lebih cepat. Lalu apa yang salah? Mengapa Titor begitu serius dengan hal ini? Padahal beliau juga pernah melakukan penjelajahan waktu ilegal ke tahun 2001 untuk memberi tahu orangtua beliau bahwa akan ada bencana melanda tempat tinggal mereka. Justru malah menjadi baik ke depannya karena orangtua Titor akhirnya selamat.
Aku masih tidak mengerti mengapa Titor marah dengan apa yang dilakukan oleh penjelajah waktu ilegal itu dan mengapa pemerintah kota menghukum Titor dengan melarangnya menggunakan fasilitas mesin waktu setelah mereka mendapati Titor melakukan penjelajahan waktu ilegal. Saat ini aku masih terkagum dengan bentuk-bentuk kendaraan sepatu yang orang-orang itu gunakan. Kemudian aku pulang ke rumah bersama Ibu. Aku melepas sepatuku dan tiba-tiba, “Ah!!!” Mengapa aku jatuh? Aku mencoba berdiri kembali, dan terjatuh lagi. Aku mencobanya sekali lagi, masih terjatuh! Apa yang salah? Mengapa aku tidak dapat berdiri tanpa sepatuku? Aku mencoba menggerakkan jari-jari kakiku, tidak bisa juga! Aku menangis.
Kemudian Ibu menghampiriku dari dalam rumah. Aku melihat, Ibu menggunakan sepatunya di dalam rumah! Lantas beliau berkata kepadaku, “Mengapa kamu melepas sepatumu, Luis sayang? Kita sudah tidak bisa menggunakan kaki kita lagi. Saraf-sarafnya tidak dapat bekerja lagi karena tidak pernah digunakan. Kamu pun tidak pernah Ibu ajarkan untuk berjalan, Luis. Dan memangnya untuk apa kita melelahkan kaki kita untuk melangkah jika kita bisa pergi tanpa harus melangkah? Kenakan lagi sepatumu, nak.”
Aku kembali lagi ke masa sekarang. Titor tersenyum sinis lagi dan berkata, “Sekarang apakah kalian sudah mengerti mengapa aku semarah ini? Apa yang seharusnya terjadi biarlah terjadi sesuai dengan skenario yang telah dibuat bumi. Janganlah kita merusak rangakaian ceritanya!”
Seketika tanganku gemetar, kedua mata terbuka lebar, dan tubuh berkeringat dingin atas apa yang aku baru sadari. Bahwa sebenarnya aku dan orang-orang masa sekarang tertawa berbahagia di dalam suatu kebodohan dengan dimanjakan oleh hasil kecerdasan otak kami sendiri.